
Sungkan dan menyungkani, itulah budaya yang sering membuat kita rentan untuk berkembang secara maksimal. Secara mahasiswa sudah sepatutnya menjunjung tinggi pola berfikir yang kritis dan transparan tanpa diembel-embeli rasa ewuh pekewuh . Memang pada batas normal sifat demikian dapat meningkatkan kualitas hubungan seseorang dan semakin meningkatkan tali silaturrahmi dalam pertemanan atau dalam organisasi. Seperti halnya budaya timur yang sangat menghargai orang lain dan tanpa menjatuhkan perasaan orang lain. Seseorang yang sudah terlalu banyak menerima pemberian (kebaikan) dari sesama, akan sulit untuk menegur si pemberi tersebut ketika yang bersangkutan melakukan kesalahan… Inilah yang saya sebut sebagai “LINGKARAN SETAN“. Itulah budaya yang menjadi kiblat pejabat2 kita dulu… semoga saja saat ini telah sadar (positive thinking=mode on)
Berbeda halnya dengan budaya ewuh pekewuh… trend anak muda sekarang agaknya perlahan mulai bergeser ke arah pengembangan diri yang menuntut sebuah pengAKUan stream idealismenya sendiri yang berujung pada sifat defense yang luar biasa— segala upaya pun dilakukan demi sebuah pencitraan diri yang brillian, bersih, look’s cool, tampil kereeen & hebat. FTV, dorama, anime dan film2 konsumsi remaja saat ini juga cenderung membawa suasana lingkungan kita ke arah situ, Sadarkah kita dengan itu semuanya? Mahasiswa dituntut peran yang lebih untuk terjun di kemudian hari menjadi pribadi yang tangguh dan menjadi INSPIRATOR bagi sesama. Sudahkah kita mencoba memulainya? Bukankah Sebaik baik manusia adalah yang paling berguna bagi orang lain (bukan diri sendiri). Semoga bermanfaat khususnya bagi saya dan semua pemuda-pemudi dari sabang sampai merauke
Sekian khotbah kali ini… HIDUP MAHASISWA (Tua)!!!
Mulai judul n isinya aq ga eruh maksude…hiks…;(
Nggak tau berbeda dengan Nggak Mau Tau lo